Seorang anak kecil. Usia 3 tahun jalan. Menangkap capung. Bermain dgn bayang2. Memunguti buah kersen yg jatuh di halaman rumah yg sangat luas.
Anak itu berlari ke arah jalan. Matanya melihat ke atas. Langit cerah. Ada awan putih berarak pelan. Siapa Tuhanku.
Tuhanku maha besar. Lebih besar dari awan putih yg semakin berarak. Tuhanku yg memberikan uang kepada Bapak dan Ibu. Aku dapat kue dan permen dari mereka. Kalau aku besar aku ingin minta uang kepada Dia.
Aku mengikuti kupu-kupu. Kupu-kupu itu cantik. Secantik mbak YK. Putrinya tante JH. Rambutnya panjang. dan hitam. Bau badannya wangi.
Biasanya tante JH sering ketemu Ibu. Bertamu. Satu dua jam. Biasanya tante lain juga bergabung. Aku belum mengerti pembicaraan mereka. Yang pasti aku mesti salim kepada mereka. Cup cup ..salim di balas ciuman di pipi. Ciuman tante NY agak basah dan sedikit bau sate.
Aku selalu berharap mbak YK turut mengantar mamanya ke rumahku. Kalau dia datang rambutku diusap -usap. Hidungku ditarik-tarik. Tapi ak gak disun. Padahal aku pengen. Sedih.
Capung dan kupu-kupu tak menarik lagi. Apalagi memungut buah kersen yg kadang ada yg sudah bonyok. Hanya mbak YK yg bisa membuatku bersemangat untuk berlari mondar-mandir, pura-pura jadi motor, brummm brummm. Sambil ngelirik. Curi-curi pandang. I was falling in love for the very first time.
Akhirnya para tante pamitan. Aku ngumpet. Trauma ciuman yg basah dan bau sate. Plus gengsi kalau ketahuan pengen di elus-elus sama pujaan hati. Ibuku mengantar sampai ke depan. Halaman rumahku luas. Ada waktu bisa duduk di bekas tempat duduk mbak YK. Hangat dan wangi. Aku malu kalau sampai ketahuan Ibu atau kepergok seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar